Mengupas Akibat Amandel Tidak Dioperasi

Amandel atau tonsil adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak di bagian belakang tenggorokan. Fungsi utamanya adalah sebagai garis pertahanan pertama tubuh melawan infeksi bakteri dan virus. Namun, ketika amandel sering meradang (tonsilitis), ukurannya bisa membesar secara kronis. Keputusan untuk melakukan operasi pengangkatan amandel (tonsilektomi) sering kali menjadi dilema bagi banyak orang, terutama orang tua yang anaknya mengalami radang amandel berulang. Meskipun operasi sering disarankan, ada beberapa akibat amandel tidak dioperasi yang perlu dipertimbangkan secara serius.

Penting: Artikel ini bersifat informatif. Keputusan medis terbaik selalu didasarkan pada evaluasi dokter spesialis THT.
Ilustrasi Amandel Meradang Gambar sederhana menunjukkan dua area merah (amandel) di tenggorokan yang membesar. T T

1. Infeksi Kronis dan Penularan

Akibat amandel tidak dioperasi yang paling umum adalah tonsilitis berulang. Setiap kali radang terjadi, amandel menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri atau virus. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan tuntas (yang sering kali berarti operasi jika sudah kronis), risiko penularan penyakit ke orang lain dalam satu rumah tangga atau lingkungan kerja akan sangat tinggi. Selain itu, infeksi kronis dapat melemahkan sistem kekebalan lokal di area tenggorokan.

2. Gangguan Tidur Serius (Sleep Apnea)

Pembesaran amandel yang signifikan, baik karena peradangan akut maupun pembesaran kronis (hipertrofi), dapat menghalangi aliran udara saat tidur. Ini adalah salah satu akibat amandel tidak dioperasi yang paling berbahaya, terutama pada anak-anak, yaitu Obstructive Sleep Apnea (OSA). Penderita OSA mengalami jeda pernapasan singkat berulang kali sepanjang malam. Konsekuensinya meliputi kualitas tidur yang buruk, kelelahan ekstrem di siang hari, kesulitan konsentrasi, bahkan berdampak negatif pada perkembangan kognitif anak dan tekanan darah tinggi pada dewasa.

3. Komplikasi Jauh dan Komplikasi Sistemik

Amandel yang terus menerus meradang mengandung bakteri streptokokus. Jika bakteri ini tidak terkontrol, toksin yang mereka hasilkan dapat menyebabkan komplikasi serius yang menjalar ke bagian tubuh lain yang disebut sebagai komplikasi jauh (jarak jauh). Dua komplikasi paling terkenal adalah:

Meskipun jarang terjadi di negara dengan sanitasi baik, risiko ini tetap ada jika infeksi amandel dibiarkan berulang tanpa intervensi yang memadai.

4. Masalah Pencernaan dan Bau Mulut

Amandel yang membesar dan sering terinfeksi rentan membentuk kantong kecil berisi sisa makanan, lendir, dan sel mati. Struktur ini disebut tonsilolit atau batu amandel. Tonsilolit sering kali berbau tidak sedap karena bakteri anaerob yang tumbuh di dalamnya, menyebabkan halitosis (bau mulut) kronis. Bau mulut yang parah ini dapat menurunkan kepercayaan diri sosial seseorang. Selain itu, kesulitan menelan (disfagia) akibat amandel yang terlalu besar juga dapat menyebabkan pola makan tidak teratur atau bahkan kesulitan menelan makanan padat dengan baik.

5. Gangguan Bicara dan Perkembangan Wajah (Pada Anak)

Pada anak-anak, amandel yang sangat besar dan terus-menerus meradang dapat memaksa anak bernapas melalui mulut (mouth breathing). Pernapasan mulut kronis, jika berlangsung bertahun-tahun, dapat memengaruhi perkembangan struktur wajah dan langit-langit mulut. Hal ini dapat menyebabkan rahang tumbuh kurang berkembang (midface hypoplasia) dan postur lidah yang tidak normal, yang pada gilirannya memengaruhi artikulasi dan kejernihan bicara.

Kesimpulan

Memang benar bahwa amandel memiliki peran penting dalam imunitas. Namun, ketika amandel menjadi sumber masalah berulang yang mengganggu kualitas hidup, tidur, dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius pada organ vital lain, membiarkannya tanpa operasi menjadi pilihan yang berisiko. Konsultasi rutin dengan dokter THT akan membantu menentukan titik kritis di mana manfaat operasi melebihi risiko mempertahankannya.

🏠 Homepage