Dalam setiap aspek kehidupan, dari pergerakan galaksi hingga bisikan di dalam hati, terdapat sebuah realitas fundamental yang menopang eksistensi. Realitas ini terangkum sempurna dalam sebuah ungkapan yang kaya makna: "Alaa Lahul Khalqu Wal Amru, Tabarakallahu Rabbul Alamin." Frasa ini, yang seringkali kita dengar dalam berbagai konteks keagamaan dan filosofis, membawa pesan mendalam tentang kedaulatan mutlak dan keagungan Sang Pencipta.
Alaa Lahul Khalqu Wal Amru, Tabarakallahu Rabbul AlaminSecara harfiah, frasa ini dapat diterjemahkan menjadi: "Hanya milik-Nya (Allah) penciptaan dan urusan (ketetapan/perintah), Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." Bagian pertama, "Alaa Lahul Khalqu Wal Amru," membagi kekuasaan menjadi dua domain utama: Al-Khalqu (Penciptaan) dan Al-Amru (Urusan/Perintah).
Penciptaan (Al-Khalqu) merujuk pada tindakan mengada-adakan segala sesuatu dari ketiadaan. Ini adalah kuasa untuk membentuk materi, energi, hukum fisika, hingga kehidupan itu sendiri. Tidak ada entitas lain, sekecil apa pun, yang memiliki kemampuan untuk memulai eksistensi. Semua yang ada, baik yang terlihat maupun tak terlihat, adalah hasil dari kehendak Pencipta.
Sementara itu, Urusan/Ketetapan (Al-Amru) adalah aspek yang lebih luas. Ini mencakup pengaturan, pengelolaan, perintah, dan pelaksanaan segala sesuatu setelah diciptakan. Jika penciptaan adalah fase inisiasi, maka urusan adalah fase operasional yang berkelanjutan. Ini meliputi takdir, rezeki, kesehatan, penyakit, dan setiap peristiwa yang terjadi dalam aliran waktu. Tidak ada yang bergerak atau berhenti kecuali atas izin dan ketetapan-Nya.
Visualisasi keteraturan alam semesta di bawah ketetapan tunggal.
Setelah menegaskan kedaulatan mutlak atas penciptaan dan urusan, kalimat ditutup dengan "Tabarakallahu Rabbul Alamin." Kata "Tabarak" mengandung makna yang melampaui sekadar "Maha Suci." Ia menyiratkan keberkahan yang melimpah, kebaikan yang tidak terputus, dan sumber dari segala kebaikan.
Mengakui bahwa Allah adalah "Rabbul Alamin" (Tuhan Semesta Alam) memperluas lingkup pengakuan ini. Ini bukan hanya tentang alam semesta fisik yang kita kenal—planet, bintang, dan lautan—tetapi juga semua dimensi keberadaan, termasuk alam spiritual, kehidupan setelah mati, dan segala sesuatu yang mungkin berada di luar jangkauan pemahaman manusia saat ini. Jika Ia adalah Tuhan bagi semua alam, maka kekuasaan-Nya tidak mengenal batas ruang maupun waktu.
Pemahaman terhadap kalimat ini membawa dampak signifikan pada cara seseorang menjalani hidup. Pertama, ia menumbuhkan rasa pasrah yang konstruktif. Ketika kita yakin bahwa setiap kejadian, baik yang tampak baik maupun buruk, berada di bawah pengaturan Ilahi yang Maha Bijaksana, kita cenderung melepaskan kecemasan berlebihan tentang hasil akhir. Kita berusaha semaksimal mungkin (ikhtiar), namun hasilnya kita serahkan sepenuhnya (tawakkal).
Kedua, hal ini mendorong penghargaan terhadap keteraturan. Dunia tidak berjalan secara acak. Ada hukum yang mengatur semuanya. Hal ini memotivasi kita untuk mencari ilmu pengetahuan dan memahami sistem-sistem yang telah ditetapkan-Nya, baik dalam sains maupun dalam etika sosial. Menyelaraskan diri dengan ketetapan ini adalah kunci menuju kedamaian batin.
Ketiga, ia menuntut penghormatan tertinggi. Jika kekuasaan mutlak hanya dimiliki oleh satu Sumber, maka fokus penghambaan, rasa syukur, dan harapan hanya boleh tertuju ke sana. Pengakuan bahwa "Hanya milik-Nya penciptaan dan urusan" adalah pemurnian dari segala bentuk penyekutuan atau ketergantungan berlebihan pada kekuatan fana lainnya.
Kesimpulannya, frasa "Alaa Lahul Khalqu Wal Amru, Tabarakallahu Rabbul Alamin" adalah sebuah deklarasi tauhid yang komprehensif. Ia mencakup keesaan Allah dalam fungsi-Nya sebagai Pencipta tunggal dan Pengatur tunggal atas seluruh realitas. Menginternalisasi kebenaran ini berarti menempatkan diri dalam harmoni dengan tatanan alam semesta, menyadari bahwa di balik setiap fenomena terdapat kehendak agung yang Maha Memberkati, yang menopang eksistensi kita semua.