Memahami Akibat Amandel yang Bermasalah

Amandel Amandel

Ilustrasi Amandel yang Mengalami Pembengkakan (Tonsilitis)

Amandel, atau tonsil, adalah sepasang jaringan limfoid yang terletak di bagian belakang tenggorokan. Fungsi utamanya adalah sebagai lini pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus yang masuk melalui mulut dan hidung. Namun, ketika amandel itu sendiri terinfeksi dan meradang—kondisi yang dikenal sebagai tonsilitis—bukan hanya fungsinya yang terganggu, tetapi juga dapat menimbulkan serangkaian akibat negatif bagi kesehatan secara keseluruhan.

Memahami akibat amandel yang meradang sangat penting karena jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, komplikasi jangka panjang bisa terjadi. Amandel yang sering bengkak tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan akut, tetapi juga berpotensi mengganggu kualitas hidup sehari-hari.

Gejala Akut dan Dampak Jangka Pendek

Ketika amandel meradang, gejala yang paling sering muncul adalah rasa sakit saat menelan (odinofagia), demam, dan sakit tenggorokan yang parah. Namun, dampak akut dari peradangan ini bisa meluas:

Akibat Amandel Kronis dan Komplikasi Serius

Bagi sebagian orang, tonsilitis terjadi berulang kali atau berlangsung lama (kronis). Tonsil yang kronis sering kali menjadi sarang bakteri yang tidak tereliminasi sempurna oleh sistem imun. Akibat amandel kronis seringkali lebih serius dan membutuhkan perhatian medis lebih lanjut.

1. Obstruksi Jalan Napas (Sleep Apnea)

Ini adalah salah satu akibat paling signifikan, terutama pada anak-anak. Amandel yang hipertrofi (membesar) secara permanen dapat menyempitkan faring. Saat tidur, jaringan lunak ini menghalangi aliran udara, memaksa penderita terbangun berkali-kali untuk bernapas. Dampak jangka panjang dari sleep apnea adalah gangguan pertumbuhan, masalah perilaku, dan kelelahan kronis di siang hari.

2. Pembentukan Abses Peritonsil

Abses peritonsil (quinsy) terjadi ketika infeksi amandel menyebar ke jaringan di sekitarnya, membentuk kantong berisi nanah. Kondisi ini sangat menyakitkan dan seringkali membutuhkan drainase (pengeluaran nanah) oleh dokter THT. Jika tidak ditangani, abses dapat menekan struktur vital lainnya.

3. Komplikasi Reumatik Jauh

Meskipun jarang terjadi di era antibiotik modern, infeksi bakteri tertentu yang menyerang amandel, terutama dari kelompok *Streptococcus*, berpotensi memicu penyakit autoimun jika tidak diobati tuntas. Dua komplikasi jauh yang paling terkenal adalah:

Kapan Harus Mempertimbangkan Operasi?

Ketika dampak dari amandel meradang sudah mengganggu kualitas hidup secara signifikan, dokter biasanya akan merekomendasikan tonsilektomi (operasi pengangkatan amandel). Indikasi utama untuk operasi meliputi:

  1. Tonsilitis yang terjadi tujuh kali dalam satu tahun, lima kali per tahun selama dua tahun berturut-turut, atau tiga kali per tahun selama tiga tahun berturut-turut.
  2. Adanya obstruksi napas parah saat tidur (sleep apnea).
  3. Adanya riwayat abses peritonsil yang berulang.

Keputusan untuk mengangkat amandel harus selalu didasarkan pada evaluasi menyeluruh oleh spesialis THT, menimbang manfaat jangka panjang (mengurangi frekuensi infeksi dan komplikasi) versus risiko operasi itu sendiri. Mengelola kebersihan mulut dan menghindari pemicu infeksi adalah langkah awal penting untuk meminimalisir akibat amandel yang merugikan.

🏠 Homepage